Pengorbanan Sang Guru

Ketika Pengorbanan seorang Guru.....

Berikut ini adalah sepenggal pengalaman miris seorang guru Paud yang mengajar di daerah, yang sebagian masyarakatnya menganggap rendah profesi guru PAUD dan menganggap remeh pendidikan AUD.

"Bu, saya mau puding...." ucapan seorang anak usia 3 tahun kepada gurunya.Diambilkannya puding yang guru itu punya.Wajah senang anak itu tercermin dan duduk dengan mangkuk dalam genggamannya.1,2 puding dia lahap dengan cepat.Lega perasaan si guru melihat anak tersebut makan sampai habis.

Saat sore tiba "ayo siapa yang mau mandi ? Tanya si ibu guru."Aku.."  jawab anak -anak di sebuah Taman Pengasuhan Anak serempak.Tidak ada beban dengan tenaga, pikiran, maupun materi yang ada dalam pikiran si ibu guru.

Tak terasa waktu berganti tahun.Seiring waktu, karena keterbatasan sarana dan prasarana yang masih dimiliki Lembaga mengalami kendala, yang akhirnya menghasilkan kebijakan - kebijakan yang dibuat oleh si ibu guru tersebut.Pemisahan ruang yang hanya 3 kelas, akhirnya memaksa kondisi  1 ruang digunakan khusus untuk pembelajaran Kelompok Bermain berlangsung dan itupun hanya 3 jam.

Namun yang terjadi kemudian diluar perkiraan si ibu guru.Si Anak merasa "dikurung" karena tidak diijinkan masuk ke dalam ruang pembelajaran apabila jam pembelajaran yang sedang dilaksanakan bukan untuk si anak, dan itupun si anak sampaikan kepada orang tuanya ...(bayangkan anak usia 3 tahun sudah bisa kritis dan tentunya si guru tersebut berperan dalam pemberian stimulus si anak tsb)...
Setelah anak cerita ke orang tuanya (*versi si orang tua)..mereka langsung datang ke sekolah dan langsung marah kepada si ibu guru yang bersangkutan, tanpa ingin tahu penjelasan terlebih dahulu dari si guru, 'dulu...(kata orang tua si anak) kami sudah membayar agar anak dapat mengikuti kegiatan kelompok bermain dan taman pengasuhan anak..tapi kenapa anak saya di 'kurung'?.. dengan bijak si ibu guru menjelaskan.."Ayah..Bunda saya tidak pernah mengurung si anak, namun karena kegiatan yang berlangsung berbeda usia maka saya (si guru tsb) berusaha memberi pengertian bahwa setelah jam 10 pagi si anak bisa bermain lagi diruang manapun yang dia suka dan besok bisa bermain puas di ruang pembelajaran karena memang saat pembelajaran untuk kelompok usia si anak.. "Kenapa tidak diikutkan tiap hari kan saya sudah bayar?" ( kata si orang tua)..Jawab si ibu guru : Ayah untuk kelompok bermain A dan B kalau dicampur otomatis pembelajaran yang diterima kelompok A tidak maksimal dan didominasi oleh kelompok B, begitupun untuk kelompok A, B,C, dan D (2 - 6 tahun) tidak bisa dicampur sama seperti kelas 5 SD dicampur dengan kelas 9.. apa bisa mereka belajar ?...Tanpa memahami dan menelaah lagi perkataan si ibu guru, orang tua tersebut dengan emosi mereka menarik anak mereka dan meminta kembali uang mereka yang telah dibayarkan ke sekolah tersebut sambil berkata "BISA APA ANAKKU DISINI???"...

Persepsi orang tua dan si guru berbeda akibat kendala - kendala yang dihadapi si guru tsb.Namun tidak terbesit sekalipun dibenak si ibu guru "mengurung" si anak.Namun itulah yang terjadi sebutan guru yang tidak baik akhirnya terlontar dari bibir orang tua tsb.
Kecewa, sedih, dalam hati si ibu guru, seolah -olah apa yang si ibu guru berikan selama ini kepada anak mereka tidak ada artinya, tidak ada harganya dan dianggap sampah.Namun si ibu guru menerima perlakuan yang tidak menyenangkan itu dan tetap menghargai orang tua anak tsb dan memaklumi sikap mereka yang memandang rendah si ibu guru dan sekolah tsb.Perbuatan dan perkataan mereka tidak setimpal dengan apa yang telah saya (si guru) berikan untuk anak mereka....

"Ya Allah.. Ya Rabb.. Apakah ini memang pantas aku terima ?... Apakah ini ujian Engkau Ya Allah ?.." ucap si guru dalam hatinya.
Ternyata apa yang selama ini si ibu guru tsb berikan tidak berbekas sama sekali di mata orang tua anak tsb.Dengan rasa yang sangat mengiris hati dia (si guru) berusaha sabar, tabah, dan ikhlas menyembunyikan perasaannya di hadapan orang tua..

Kadang memang kita tidak selalu bisa memaksakan orang lain untuk berpikiran sama seperti kita, jika yang diperoleh adalah informasi dari seorang anak usia 3 tahun yang dalam persepsi anak dan orang dewasa pasti berbeda.

Siapa yang salah?.. Apakah kemiskinan sarana dan prasarana yang terbatas?.. atau si guru?.. atau ego orang tua?....

 
Akhirnya…Si guru dengan ikhlas menerima predikat “tidak baik” oleh orang tua si anak tersebut dan berharap apa yang telah dia berikan dengan tulus akan membuahkan hasil kelak untuk si anak…aamiin
 
Namun ada banyak hal yang akhirnya Si guru tersebut sadari… Masih banyak orang tua yang menghargai apa yang Si guru tersebut berikan  daripada keterbatasan/kekurangan yang Si guru tersebut miliki..
Terima kasih untuk Si Ibu guru yang telah rela meluangkan waktunya untuk berbagi cerita dengan Kami. Tulisan ini Kami dedikasikan untuk semua Guru PAUD Indonesia yang telah rela dan ikhlas mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mendidik anak-anak usia dini. Karena hasil yang diperoleh anak-anak PAUD bukanlah nilai atau peringkat, namun pembangunan karakter positif yang akan Si Anak gunakan hingga kelak dia dewasa….
Seberapa banyak Materi atau Uang yang diberikan masih belum dapat menghargai Jasa dari Seorang Guru, Kenapa kita tidak berusaha menghargai mereka karena sekecil apapun ilmu yang mereka berikan tidak bisa ternilai oleh uang dan materi ”.. 
sumber : http://insananandabangil.blogspot.com/2012/09/ketika-pengorbanan-seorang-guru.html

2 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

 
Read more: http://blog-jummiramadanil.blogspot.com/2013/05/cara-membuat-tombol-next-page-dengan.html#ixzz3JWY3lCtI